
Setelah Get Talking Indonesian terbit, saya sempat merasa: “Oke, ini satu milestone pribadi.”
Ternyata hidup punya rencana lain. Buku itu justru membuka pintu ke perjalanan yang lebih panjang—sebuah proses yang terus tumbuh, satu per satu tools belajar Bahasa Indonesia yang praktis dan benar-benar terpakai oleh para expat.
Mewakili Indonesia Dalam Frankfurt Bookfair, Jerman, 2015
Mewakili Indonesia di Panggung Dunia
Menulis dengan Tujuan: Apa yang Benar-Benar Dibutuhkan Murid.
Setiap buku yang saya tulis setelahnya selalu punya tujuan yang jelas—dibentuk oleh kebutuhan nyata para pembelajar. Ada buku untuk pelancong atau pendatang baru yang butuh frasa penting secepat mungkin: Indonesian Daily Conversations + Words. Ada juga buku dengan struktur lebih rapi untuk expat yang ingin memahami bahasa lebih dalam: Indonesian For Beginners. Tapi pendekatan saya tetap sama: harus bisa dipakai langsung: Practical Indonesian In A Week.
Saya ingin pembaca memakai apa yang mereka pelajari hari itu juga—untuk menyapa mbak di rumah, bertanya arah, atau memesan makan secara langsung di restoran ataupun online. Targetnya sederhana: membuat Bahasa Indonesia terasa lebih ramah dan tidak menakutkan, terutama bagi pemula. Menyesuaikan Format, Menjaga Napas yang Sama
Proyek Lintas Budaya: Bahasa Arab Sistem 52 Minggu
Di tahun yang sama (2015), terjadi hal yang tak saya duga. Salah satu murid saya, Mr. Salih Jamaan Alzahrani dari Mekkah, terinspirasi oleh materi yang saya tulis. Ia bermimpi membuat seri Bahasa Arab untuk pembelajar Indonesia. Saya memperkenalkannya pada penerbit saya. Ia menulis skript dalam Bahasa Inggris, lalu saya sebagai co-author, ikut menulis versi Bahasa Indonesianya. Lahirlah Bahasa Arab System 52 Minggu Vol. 1—sebuah kolaborasi yang indah, mempertemukan bahasa dan budaya. Pengalaman ini mengingatkan saya: bahasa bukan hanya alat komunikasi. Bahasa adalah jembatan—yang menumbuhkan relasi, pemahaman, dan rasa saling menghormati.
Pak Salih dan Karyanya, 2015
Ketika Usaha Itu Terlihat Hasilnya
Tidak ada hadiah yang lebih membahagiakan daripada mendengar dampak nyata dari buku-buku itu. Entah lewat pesan singkat dari murid yang akhirnya berani ngobrol pakai Bahasa Indonesia, atau cerita kecil: “Saya jadi nggak takut lagi ngomong sama orang warung.” Lalu ada satu momen yang diam-diam saya simpan rapat di hati—momen yang mungkin terlihat sederhana bagi orang lain, tapi buat saya rasanya besar: melihat buku saya terpajang di rak toko Gramedia (sebelum masa Covid). Saya ingat, saya berdiri sebentar… menatap rak itu… dan tersenyum sendiri. Bukan karena merasa “wah”, tapi karena saya tahu: di balik satu buku yang berdiri rapi itu, ada banyak malam panjang, banyak kelas, banyak revisi, dan banyak doa. Dan pada akhirnya, saya selalu kembali ke kesimpulan yang sama: Setiap buku bukan sekadar publikasi.
Ia menjadi bagian kecil dari perjalanan seseorang yang sedang membangun hidup di Indonesia. Dan itu, buat saya, adalah kepuasan yang paling tulus.
Mengenang Momen Haru Di Toko Buku Gramedia 2017-2019
Lalu, Selanjutnya Apa?
Kalau saya tarik garis besarnya, semua proyek ini mengajarkan saya satu hal yang sederhana: yang paling berharga itu bukan jumlah judulnya, tapi siapa yang terbantu karenanya. Saya belajar menulis dengan lebih rapi, menyesuaikan format, bekerja sama lintas budaya, dan tetap bertahan di tengah jadwal mengajar yang padat. Tapi di atas semuanya, saya belajar bahwa “tools belajar” yang baik itu lahir dari tempat yang sama: dari kelas nyata, dari pertanyaan murid yang jujur, dan dari kebutuhan sehari-hari yang sering luput ditulis di buku-buku besar. Dan mungkin itu sebabnya momen seperti melihat buku saya di rak Gramedia terasa begitu hangat—karena saya tahu, di balik satu buku itu ada banyak cerita orang yang sedang mencoba hidup nyaman di Indonesia.
Perjalanan ini belum selesai. Di Bagian 3 — Mewakili Indonesia di Frankfurt & London Book Fair: Tonggak Penting dalam Perjalanan Mengajar Saya, saya akan mengajak Anda masuk ke bab berikutnya: bagaimana buku-buku ini akhirnya melangkah ke panggung internasional—dan bagaimana saya belajar bahwa kita bisa “pergi jauh”, bahkan saat kaki tetap berpijak di rumah. Sampai ketemu di cerita berikutnya 🌿
Salam hangat,
Restiany
📖
Mau Baca Cerita Lengkapnya?
Cerita ini adalah bagian dari Cerita Guru BIPA.
Kalau mau bacanya runtut, bisa klik di bawah ini ya:
👇
Seri: Awal Mula Masuk Dunia Mengajar
👇
Seri: Perjalanan Penulisan Buku









