
Back to Jakarta...
Saya balik ke Jakarta di awal 2010—dan jujur, hal pertama yang saya rindukan adalah udara Gorontalo. Di sana napas terasa ringan. Di Jakarta? Panasnya “nempel”, polusinya nyata, dan macetnya… ya, Jakarta tetap Jakarta. Tapi kepindahan ini bukan cuma pindah alamat. Ini lompatan iman. Saya meninggalkan murid-murid, proyek komunitas, dan rasa “punya rumah” yang saya bangun di Gorontalo. Sebagai single mom dengan dua anak, saya tahu satu hal: saya harus mulai lagi dari nol. Bukan demi ambisi besar—cukup demi besok yang lebih aman untuk anak-anak saya. Dan tanpa saya sadari, perjalanan mengajar saya justru mau belok ke arah yang sama sekali tak saya rencanakan.
Jakarta Busy Road Nowadays
Jakarta Itu Ramai, Tapi Hidup Harus Jalan
Dulu di Gorontalo, ritme hidup lebih pelan. Ketika kembali ke Jakarta, hari-hari terasa seperti ditarik cepat: jalanan padat, suara bising, dan semua orang seperti buru-buru. Saya sempat kangen “ruang sunyi”. Tapi saya juga pegang satu tekad: saya harus berdiri lagi. Mengajar buat saya waktu itu bukan sekadar pekerjaan. Mengajar adalah cara saya menata ulang hidup—pelan-pelan, tapi nyata.
Kristin: Murid Pertama yang Bilang “Saya Percaya”
Tidak lama setelah saya settle, saya bertemu Kristin. Ia psikiater dari New York, tinggal di Jakarta bersama suaminya. Kristin jadi murid Bahasa Indonesia pertama saya di Jakarta. Yang saya ingat, Kristin itu tipenya hangat. Serius belajar, tapi tetap santai. Dan yang bikin hati saya “klik” adalah: dia percaya dari awal. Bukan cuma selesai kelas lalu bilang, “Thank you.” Kristin menulis rekomendasi yang manis (yang bikin saya senyum-senyum sendiri), lalu ia bagikan ke teman-temannya di komunitas ekspat. Waktu itu saya belum paham, satu rekomendasi bisa punya “umur panjang” dan berjalan ke mana-mana tanpa kita dorong.
Kristin Diapit Para Kader Posyandu, Bogor 2012
Manon dan Mark: Dari Privat ke Tim Kantor
Dari jaringan Kristin, saya ketemu Manon—istri ekspat yang ikut les privat. Manon suka gaya saya yang rapi, tapi tetap hidup. Saya bukan tipe yang bikin kelas terasa kaku—saya maunya orang berani ngomong, walau masih belepotan sedikit. Manon lalu memperkenalkan saya ke suaminya, Mark, manajer regional di Chevron Indonesia saat itu. Saya ketemu Mark di kantornya di Senayan. Saya kira, ya sudah, kelas privat lagi. Ternyata Mark santai-santai saja, lalu “lempar” pertanyaan yang mengubah arah: “Kalau kamu ajarin tim saya, bisa?” Saya sempat diam sebentar. Bukan karena ragu, tapi karena… oh, ini serius nih. Dan sejak itu, pelan-pelan saya masuk ke dunia korporat Jakarta—bukan lewat pintu besar, tapi lewat satu demi satu orang yang percaya.
Bersama Bu Manon, American Club Jakarta, 2013
Pak Leland (Lee): Orang Baik yang Mengantar Saya ke Buku Pertama
Dari Mark, saya juga dikenalkan ke Leland (Lee) —rekan kerjanya. Lee ini salah satu “orang baik” yang datang di waktu yang pas. Ia sangat suportif, dan punya peran besar membantu saya menerbitkan buku pertama saya: Get Talking Indonesian. Buku itu akhirnya ikut sampai ke Frankfurt Book Fair tahun 2015, mewakili Indonesia di panggung internasional. Kalau saya flashback, rasanya masih suka geleng-geleng. Dari kelas privat yang sederhana, kok bisa nyambung sampai ke sana?
Pak Leland dan Ibu Susie -Voice Talents Get Talking Indonesian -2015
Satu Meja, Sepuluh Istri Expat, dan Saya Jadi Bahan Tawa
Manon juga mengenalkan saya ke lingkar pertemanannya di American Club, termasuk Susie—istri ekspat ExxonMobil. Susie lalu merekomendasikan saya ke suaminya, Scott. Jadi, ya, daftar murid saya makin panjang. Suatu hari saya dengar cerita yang sampai sekarang masih bikin saya ketawa kecil.
Ada jamuan makan siang—sepuluh istri ekspat ngobrol santai. Salah satu bilang, “Guru Bahasa Indonesia saya namanya Restiany.”
Tiba-tiba satu meja pecah tawa. Kenapa?
Karena ternyata mereka semua… murid saya.
Bayangin ya: saya nggak ada di situ, tapi nama saya jadi “inside joke” satu meja.
Lucu, gemas, dan hangat. Saya suka momen-momen seperti itu—kecil, tapi ngasih rasa.
Bersama Tim AWA Jakarta, 2013
Saya Tidak Pasang Iklan, Tapi Jadwal Penuh
Saya nggak pernah pasang iklan. Nggak bikin promo heboh. Tapi jadwal saya penuh. Murid datang lewat satu jalur yang sederhana: rekomendasi. Satu orang percaya, lalu cerita ke temannya. Temannya percaya, lalu cerita lagi. Begitu terus. Pelan, tapi kuat. Dan buat saya, itu bukan sekadar “ramai murid”. Itu tanda bahwa yang dibangun bukan cuma kelas—tapi hubungan. Kepercayaan. Untuk Kristin, Manon, Mark, Lee, Susie, Scott, dan banyak nama lain yang mungkin tidak saya tulis satu-satu di sini—terima kasih. Kalian membantu saya membangun bab Jakarta ini. Dan bab ini akan selalu saya simpan baik-baik.
📚
Cerita Berikutnya Menyusul, Pelan-Pelan
Masih ada cerita lain yang ingin saya tulis—bukan teori, bukan tips. Cuma cerita proses. Dari guru ke guru. Terima kasih sudah membaca.
Semoga tulisan ini bisa menemani satu momen kecilmu hari ini—mungkin sambil seruput kopi hitam, mungkin sambil tarik napas panjang...
Salam hangat,
Restiany ☕
🤓
📌
Disclaimer
Semua nama yang disebutkan dibagikan dengan penuh rasa terima kasih untuk menghormati peran masing-masing dalam perjalanan mengajar saya. Mohon maklum kualitas foto yang disertakan—diambil dengan kamera resolusi rendah pada masanya, tapi kenangannya “tajam” sekali di hati saya.
📖
Mau Baca Cerita Lengkapnya?
Cerita ini adalah bagian dari Cerita Guru BIPA.
Kalau mau bacanya runtut, bisa klik di bawah ini ya:
👇
Seri: Awal Mula Masuk Dunia Mengajar
👇
Seri: Perjalanan Penulisan Buku











