
Bagaimana Sebuah Belokan Hidup Justru Menjadi Landasan Peluncuran
Ketika saya memutuskan kembali ke kampung halaman di Gorontalo, Sulawesi, pada akhir 2006, saya sama sekali tidak membayangkan bahwa keputusan itu akan menjadi titik awal perjalanan mengajar yang jauh lebih besar.
Hidup saya berubah drastis—dari ritme cepat Jakarta ke suasana desa yang sunyi dan pelan. Saya tinggal di sebuah desa kecil di kaki perbukitan. Pagi-pagi berkabut, sawah membentang, dan hari-hari terasa jauh lebih tenang. Bagi seseorang yang tumbuh di kota besar, penyesuaian ini tidak selalu mudah. Ada rasa sepi. Ada rasa “terlalu pelan”. Tapi alih-alih melawan keadaan, saya memilih menerima: mungkin ini bukan kemunduran, melainkan bab baru.
Foto Kredit: Iriyanto Otolomo -2025
Menjadi Mahasiswa Sekaligus Tutor Di Kampus Yang Sama
Untuk tetap merasa terhubung dengan dunia yang saya cintai, saya mendaftar program diploma Penerjemahan Bahasa Inggris di Universitas Terbuka. Sistem belajar jarak jauh memungkinkan saya belajar mandiri dan datang ke kampus hanya saat ujian. Sebagian besar teman sekelas saya adalah guru dan profesional—orang-orang yang juga berjalan di jalur tidak biasa. Lingkungannya terasa pas. Bahasa Inggris selalu menjadi minat saya. Mendalaminya kembali lewat jalur akademik memberi energi baru. Suatu hari, saat mengambil transkrip nilai di Kampus Universitas Terbuka Gorontalo, petugas kemahasiswaan memperhatikan nilai saya yang konsisten baik. Ketika mereka tahu saya pernah belajar di Australia pada 1997, pertanyaan sederhana itu pun muncul:
“Kalau ngajar Bahasa Inggris di sini, mau?”
Saya tersenyum. Terkejut, tentu. Sedikit tidak percaya. Tapi hidup sering membuka pintu dengan cara yang sangat santai—nyaris tanpa seremoni. Tak lama kemudian, kami memulai kelas kecil di teras kampus. Murid saya adalah staf administrasi kampus. Ruang kelasnya terbuka, teduh, dan berangin. Saya mengajar dengan contoh sehari-hari, pendekatan praktis, dan banyak dorongan. Tidak ada metode canggih—hanya niat membuat belajar terasa mungkin dan menyenangkan. Dan ternyata, mereka menyukainya. Rasanya ganjil sekaligus menyenangkan: menjadi mahasiswa dan pengajar di kampus yang sama. Kelas itu berjalan selama tiga bulan. Tapi dampaknya jauh lebih panjang.
Teras Kampus Universitas Terbuka - UPBJJ Gorontalo
Dari kelas teras itu, peluang lain mulai berdatangan. Kesempatan berikutnya datang dari seorang mahasiswa yang pernah melihat saya mengajar. Ia menyukai pendekatan saya dan memperkenalkan saya ke tempat kerjanya—sekolah keperawatan satu-satunya di Gorontalo, saat itu. Saya menyusun proposal Program Persiapan TOEIC yang disesuaikan untuk dosen mereka. Tak lama kemudian, saya mendapatkan kontrak mengajar selama 30 jam. Kali ini, suasananya berbeda. Saya mengajar di laboratorium bahasa yang modern, ber-AC, dengan fasilitas lengkap. Peralihannya terasa luar biasa—dari obrolan santai di teras ke pelatihan profesional.
Titik Terang
Dari titik itu, langkah terasa semakin cepat—meski jalannya belum tentu rapi. Dengan dukungan seorang sahabat dekat, saya memberanikan diri memasang iklan kelas persiapan TOEFL. Padahal, jujur saja, saat itu saya belum punya ruang kelas. Yang saya punya hanya niat, keyakinan kecil, dan doa yang terus saya ulang: semoga ada jalan. Tak lama setelah iklan itu tayang, beberapa orang menghubungi saya. Pertanyaannya sederhana,
“Kami siap mulai saat ibu sudah siap.”
Saya sempat tersenyum sendiri. Lucu juga rasanya—saya belum benar-benar siap, kelasnya belum ada, rumah saya pun di desa, cukup jauh dari pusat kota. Tapi antusiasme mereka nyata. Mereka ingin belajar, dan ingin segera mulai. Di titik itulah saya kembali merasakan satu hal yang belakangan sering terulang dalam perjalanan ini: ketika kita melangkah dengan niat baik, jalan seringkali muncul menyusul.
Lewat sebuah perkenalan, saya dipertemukan dengan jaringan kursus lokal dan akhirnya bisa bekerja sama dengan salah satunya, seorang pendiri LPK Komputere bernama LPK Rezky Gorontalo, yang berlokasi di Kota Gorontalo. Tanpa banyak syarat, beliau mempersilakan saya menggunakan salah satu ruangannya untuk kelas TOEFL Preparation.
LPK Rezky Gorontalo -2008-2009
Saya terharu. Kemudahan datang satu per satu—seperti dijahit rapi oleh Tuhan. Bukan karena saya hebat, tetapi karena saya berani melangkah sebelum semuanya sempurna. Dan baru di kemudian hari saya menyadari satu hal penting: belokan hidup yang dulu terasa “menjauh” dari pusat justru menjadi landasan peluncuran.
Dari Sulawesi, perjalanan ini perlahan mengarah ke dunia yang lebih luas—termasuk jalan panjang menuju pengajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing di tahun-tahun berikutnya. Kadang hidup tidak membawa kita ke tempat yang kita rencanakan.
Tapi ia membawa kita ke tempat yang kita perlukan.
✨
Terima kasih sudah membaca!
Semoga cerita ini menemani langkahmu hari ini—pelan, tapi tetap bergerak. —
Restiany🤓
📖
Mau Baca Cerita Lengkapnya?
Cerita ini adalah bagian dari Cerita Guru BIPA. Kalau mau bacanya runtut, bisa klik di bawah ini ya:
👇
Seri: Awal Mula Masuk Dunia Mengajar
👇
Seri: Perjalanan Penulisan Buku









