December 17, 2025, 5:18 am

Kelas Pertama Saya, Titik Balik Itu Dimulai (Bagian 1 dari 4 seri)

Kelas Pertama Saya, Titik Balik Itu Dimulai (Bagian 1 dari 4 seri)
Perjalanan mengajar saya dimulai tahun 2005—bukan di ruang kelas, tapi di sebuah ruang tamu kecil di Bogor, Jawa Barat.

Waktu itu saya belum pernah “mengajar” siapa pun secara resmi. Tidak ada gelar pendidikan, tidak ada pengalaman mengajar, tidak ada lesson plan yang rapi. Tapi hidup kadang datang dalam bentuk yang sederhana.

Seorang teman lama memperkenalkan saya pada sebuah keluarga pengungsi dari Afghanistan. Mereka baru tiba di Indonesia dan sedang menunggu proses suaka untuk pindah ke Australia. Mereka butuh guru Bahasa Inggris untuk anak-anaknya. Saya tidak punya latar belakang mengajar, tapi saya suka Bahasa Inggris sejak kecil—dan saya pernah mengambil sertifikat Bahasa Inggris saat di Australia. Itu cukup… untuk membuat saya berani bilang, “Ya sudah, kita coba.”


-

Mereka menawarkan saya Rp750.000 per bulan, dengan total empat jam mengajar tiap minggu. Tidak besar—apalagi kalau dibandingkan hari ini. Tapi saat itu, yang terasa besar justru hal lain: rasa punya tujuan. Saya ingin membantu anak-anak itu punya bekal Bahasa Inggris dasar—supaya saat mereka tiba di negara baru, mereka tidak merasa sepenuhnya “buta arah”. Enam bulan berlalu, proses suaka mereka akhirnya disetujui. Mereka pindah ke Australia. Anak-anak itu pergi membawa fondasi kecil Bahasa Inggris—dan saya ditinggal dengan sesuatu yang jauh lebih besar:
Saya baru sadar… mengajar ternyata diam-diam jadi bagian dari diri saya.

Membangun Fondasi

Setahun setelah itu, 2006, saya mendaftar program TEFL (Teaching English as a Foreign Language) -Teacher Training di LIA Jakarta. Programnya tiga bulan pelatihan, dengan komitmen mengajar dua tahun. Dan jujur: di fase inilah saya merasa dunia saya “dibuka”. Saya punya mentor. Saya punya struktur belajar. Saya punya pengalaman praktik mengajar anak-anak dan remaja dengan latar belakang yang berbeda-beda. Saya belajar mengelola kelas, menyusun rencana belajar, dan yang paling penting:
Belajar itu bukan soal “materi habis”. Belajar itu soal membuat prosesnya hidup dan menyenangkan.
Di titik ini, saya mulai paham: mengajar bukan sekadar “bisa bahasa”. Mengajar itu keterampilan—dan keterampilan itu bisa dilatih.

-

Belokan Hidup ke Sulawesi

Awal 2007, hidup membawa saya pulang ke kampung halaman: Gorontalo, Sulawesi. Perpindahan yang terlihat tenang, tapi sebenarnya itu langkah besar. Waktu itu saya belum tahu bahwa kepulangan ini akan jadi panggung awal untuk sesuatu yang lebih jauh: mengajar Bahasa Indonesia untuk penutur asing, membangun program bahasa sendiri, menulis buku, dan pada akhirnya membangun restiany.com untuk menjangkau lebih banyak pembelajar.


Desa Tanggilingo, Kec. Kabila, Kab. BonBol, Gorontalo
Desa Tanggilingo, Kec. Kabila, Kab. BonBol, Gorontalo

Saya tiba di Gorontalo tahun 2007. Dan tanpa saya sadari, “bab berikutnya” sudah menunggu.

-Terima kasih sudah membaca tulisan ini dan selamat menikmati harimu yang indah...
Salam hangat,
-Restiany🤓-

📖- Mau Baca Cerita Lengkapnya?

Cerita ini adalah bagian dari Cerita Guru BIPA. Kalau mau bacanya runtut, bisa klik di bawah ini ya:
👇- Seri: Awal Mula Masuk Dunia Mengajar ➡️- Bagian 2 | 3 | 4 👇- Seri: Perjalanan Penulisan Buku ➡️- Bagian 1 | 2 | 3 | 4

More Blog Post...
Social Media
Address:
+6285286601466
+6285286601466
admin@restiany.com
Payment Methods:
-
-
-
-
@2026 Restiany Inc.