
Kadang hidup tidak membawa kita ke tempat yang kita rencanakan...
Tapi ia membawa kita ke tempat yang kita perlukan. Kalimat itu baru benar-benar saya pahami ketika langkah-langkah kecil yang saya ambil di Gorontalo mulai menemukan iramanya sendiri. Kelas yang lahir dari doa dan keberanian sebelum siap, perlahan berubah menjadi ruang belajar yang hidup—dengan murid yang datang silih berganti dan mimpi yang tumbuh diam-diam.
Tahun 2008, saya membuka kelas Bahasa Inggris sendiri di pusat Kota Gorontalo. Kota yang tenang di pesisir utara Sulawesi, jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Saat itu, hanya ada satu tempat persiapan TOEFL di kota ini. Saya melihat kebutuhan—dan sekali lagi memilih untuk mencoba. Bukan dengan rencana besar. Hanya dengan keyakinan sederhana: kalau ruang belajarnya ada, orang-orang yang ingin bertumbuh akan menemukan jalannya.
Kolaborasi yang Datang sebagai Jawaban Doa
Di fase itu, ada satu hal yang paling sering saya doakan—dan terdengar sederhana: ruang belajar. Murid sudah ada. Antusiasme sudah terasa. Tapi saya belum punya tempat yang layak untuk memulai. Tuhan menjawab doa itu lewat cara yang sangat manusiawi—melalui pertemuan dan kolaborasi. Lewat sebuah perkenalan, saya dipertemukan dengan pemilik LPK Rezky Gorontalo. Bukan sekadar relasi profesional, pertemuan itu menjadi awal kolaborasi yang hangat dan saling percaya. Tanpa banyak syarat dan tanpa kerumitan, beliau mempersilakan saya menggunakan salah satu ruang belajar di LPK Rezky untuk kelas persiapan TOEFL yang akan saya jalankan.
Bagi saya, ini bukan hanya soal tempat.Ini adalah kemudahan dari Tuhan—jawaban dari doa-doa kecil saat saya sedang membutuhkan jalan keluar, karena murid sudah menunggu. Ruang itu menjadi saksi awal kelas-kelas yang lahir dari keberanian sebelum siap—kelas yang kemudian tumbuh, menemukan ritmenya, dan perlahan membentuk komunitas belajar.
LPK Rezky Gorontalo, 2008-2009
Wajah-Wajah di Balik Usaha Ini
Murid-murid pertama saya datang dari latar belakang yang beragam.
Pegawai negeri yang mengejar kenaikan jabatan. Dokter umum yang bersiap mengambil pendidikan spesialis. Dosen universitas yang mempersiapkan studi doktoral ke luar negeri. Saya menyaksikan proses mereka satu per satu—kemajuan kecil, rasa lelah, lalu senyum ketika target skor tercapai. Setiap pencapaian terasa seperti kemenangan bersama. Seolah bukan hanya mereka yang “lulus ujian”, tetapi saya pun ikut belajar dan bertumbuh bersama mereka.
Ketika Toko Buku Menjadi Penyelamat
Tentu saja, ini bukan Jakarta atau Surabaya. Ini Gorontalo.Tidak ada toko buku besar. Tidak ada akses cepat ke materi ajar terbaru. Di situlah saya menemukan Bookstalk—toko kecil milik seorang sahabat bernama Ricky. Tempat sederhana yang menjadi penyambung hidup kelas kami. Dari sanalah saya memesan buku teks, kamus, dan materi persiapan ujian. Tanpa toko kecil itu, perjalanan belajar kami pasti akan terasa jauh lebih berat.Kadang, yang kita butuhkan bukan fasilitas besar—melainkan orang-orang baik di waktu yang tepat.
Seorang Sahabat, Ruang Gratis, dan Mimpi yang Membesar
Selain kolaborasi yang Tuhan hadirkan lewat LPK Rezky, saya juga ditopang oleh seorang sahabat yang membantu saya memulai langkah ini—dan bukan hanya dengan kata-kata penyemangat. Ia mempersilakan saya menggunakan sebuah ruang tanpa sewa, tanpa syarat. Murni kepercayaan. Tak lama kemudian, ia datang membawa sebuah ide: “Bagaimana kalau kita bikin program Bahasa Inggris gratis untuk anak-anak kurang mampu di kota ini?”
Saya tidak berpikir lama.“Yuk.”
Program yang Mengubah Segalanya
Pertengahan 2008, program itu berjalan. Dalam waktu singkat, lebih dari 500 siswa mendaftar—dari kelas 1 SD hingga kelas 9 SMP. Saya melatih tujuh guru lokal dan mengenalkan pendekatan mengajar yang kreatif dan praktis, agar belajar Bahasa Inggris terasa menyenangkan dan mudah diakses. Misi kami sederhana, tapi kuat: membuat belajar Bahasa Inggris menjadi menyenangkan, gratis, dan mungkin dijangkau. Semua proses belajar mengajar ini menggunakan ruangan-ruangan yang tersedia di kantor-kantor kelurahan terkait saat itu.
Jonna, Peter dan Koleganya - Tamu Bule Program Kami -2009
Saat itu, Bahasa Inggris sebenarnya sudah diajarkan di sekolah-sekolah formal di Gorontalo. Namun bagi banyak anak, pelajaran itu masih terasa jauh dan abstrak—sekadar mata pelajaran, belum menjadi jendela menuju mimpi mereka di masa depan. Kehadiran kelas gratis ini bukan untuk menggantikan sekolah, melainkan untuk menyalakan kesadaran: bahwa Bahasa Inggris bisa menjadi jalan, bisa membuka kemungkinan, dan bisa membawa mereka melangkah lebih jauh dari yang mereka bayangkan. Bahkan mengetahui bahwa ada ruang belajar gratis saja sudah menjadi sebuah harapan baru.
Dan dari ruang sederhana itulah, rasa ingin tahu mulai tumbuh—diikuti tawa, keberanian bertanya, dan mata-mata kecil yang perlahan berbinar ketika dunia terasa sedikit lebih dekat.
“Barbie”, Tawa, dan Mata yang Berbinar
Untuk menambah semangat, saya mengundang dosen internasional dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) untuk bertemu para siswa. Ada satu momen kecil yang tak pernah saya lupakan.Seorang anak perempuan menatap dosen tamu itu, lalu bertanya polos:“Bu… kamu Barbie, ya?” 🤭Ruangan langsung pecah oleh tawa.Di momen sederhana itu, saya kembali diingatkan mengapa semua ini dilakukan—bukan sekadar mengajarkan bahasa, tetapi membuka jendela ke dunia yang lebih luas.
Jonna dan Peter Bersama Peserta Kursus Tingkat SMP -2009
Dari Proyek Lokal ke Panggung Nasional
Apa yang bermula sebagai kegiatan kecil perlahan berkembang menjadi sesuatu yang tak pernah saya rencanakan. Tahun 2009, inisiatif ini mengantarkan saya meraih juara pertama Lomba Guru Kursus Bahasa Inggris Nonformal tingkat provinsi. Saya kemudian mewakili Gorontalo dalam ajang nasional di Yogyakarta. Berdiri di antara para pendidik dari seluruh Indonesia terasa sangat merendahkan hati. Saya hadir bukan hanya sebagai guru, tetapi sebagai seseorang yang membangun sesuatu dari nol—sesuatu yang nyata, hidup, dan bertahan.
Dari Satu Ruang ke Riak yang Meluas
Sampai hari ini, saya masih sering takjub. Bagaimana sebuah ruang kecil, segelintir murid, dan tujuan yang tulus bisa menciptakan dampak yang meluas. Yang dibutuhkan ternyata bukan kesempurnaan—melainkan keyakinan, usaha, dan mimpi yang dibagi bersama.
Awal Baru di Depan Mata
Awal 2010, saya kembali ke Jakarta. Saatnya memulai bab baru. Naik satu tingkat. Tak lama kemudian, saya bertemu murid asing pertama saya—dan dari sanalah perjalanan mengajar Bahasa Indonesia bagi penutur asing benar-benar dimulai.📖
📌
Catatan Kecil
Sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih, dalam tulisan ini saya hanya menyebut nama depan. Setiap nama mewakili hubungan bermakna dan kenangan yang saya jaga. Saya juga mohon maaf atas kualitas foto yang sederhana—diambil dengan kamera ponsel lama saat itu. Meski tidak sempurna, foto-foto ini menyimpan cerita yang jujur, dan saya membagikannya untuk merayakan orang-orang dan momen yang membentuk perjalanan ini.
Terima kasih sudah menjadi bagian darinya.💛
Salam hangat, Restiany🤓
📖
Mau Baca Cerita Lengkapnya?
Cerita ini adalah bagian dari Cerita Guru BIPA.
Kalau mau bacanya runtut, bisa klik di bawah ini ya:
👇
Seri: Awal Mula Masuk Dunia Mengajar
👇
Seri: Perjalanan Penulisan Buku










