
Bagaimana sebuah misi kecil, dukungan seorang teman, dan cerita murid-murid di kelas membentuk buku Bahasa Indonesia pertama saya.
Kesempatan yang Datang Tanpa Rencana
Jujur ya—menulis buku itu bukan sesuatu yang pernah saya rencanakan. Bahkan tidak sekali pun. Tapi hidup kadang suka “menyodorkan” kesempatan di waktu yang tidak kita duga. Buat saya, momen itu datang lewat obrolan dengan sahabat saya, Satwika—seorang editor di Kesaint Blanc, Jakarta. Dia melihat perjalanan mengajar saya, lalu bilang kira-kira begini:
“Resti, pengalamanmu ngajarin expat itu bisa jadi sesuatu yang lebih besar. Bisa jadi buku.”
Waktu itu saya sempat ketawa kecil… lalu diam, karena saya merasa: Saya ini guru, bukan penulis. Tapi makin saya pikir, makin terasa ada satu hal yang terus berulang di kelas: murid-murid saya butuh panduan yang benar-benar “kepakai”—bukan daftar kosakata panjang, bukan aturan tata bahasa yang bikin kening berkerut, tapi sesuatu yang bisa dipakai dari hari pertama tinggal di Indonesia. Dan di titik itu saya sadar: ini bukan soal bisa atau tidak bisa menulis.
Ini soal: perlu atau tidak perlu buku seperti itu ada.
First published in 2015
Dari Catatan Kelas Jadi Panduan yang Nyata
Banyak murid saya bilang hal yang sama dengan nada campur aduk—antara lucu dan pasrah:
“Kenapa sih nggak ada buku yang model begini dari dulu? Yang isinya tuh beneran dipakai buat hidup sehari-hari.”
Mereka kewalahan dengan buku-buku yang terlalu “rapi” dan terlalu “teori”. Padahal yang mereka butuhkan sering kali sesederhana ini:
- gimana beli sayur tanpa panik,
- gimana ngobrol sama mbak di rumah dengan sopan tapi natural,
- gimana pesan taksi, bilang tujuan, dan nggak salah paham.
Akhirnya tawaran pertama dari penerbit tempat Satwika bekerja saat itu pun saya terima dan saya mulai menulis Get Talking Indonesian—bukan sebagai buku pelajaran yang kaku, tapi sebagai semacam buku survival: praktis, hidup, dan dekat dengan percakapan sehari-hari yang benar-benar terjadi di kelas saya.
Dan yang paling penting: saya tidak menulis sendirian. Murid-murid saya yang sedang aktif belajar saat itu pun saya libatkan. Saya “nanya balik” ke murid-murid:
- Bagian mana yang paling bikin bingung?
- Kalimat apa yang paling sering kalian pakai?
- Situasi apa yang paling sering bikin kalian salah paham?
Cerita mereka pelan-pelan membentuk isi buku itu.
Rekaman Audio Book di Studio Kesaint Blanc Jakarta, 2014
Suara Kelas yang Ikut Masuk ke Buku
Proyek ini kemudian berkembang: bukan hanya buku, tapi juga jadi kursus audio 10 hari—berisi percakapan penting, tips budaya, dan bantuan pelafalan. Topik-topik yang saya masukkan dalam judul ini adalah topik-topik yang membantu siswanya belajar mandiri bukan hanya Bahasa Indonesianya saja tapi juga catatan-catatan budaya yang terkait topik-topiknya. Dari sejak siswanya tiba di bandara internasional dan mulai bertegur sapa dengan petugas-petugas custom dan bandara, memesan taksi ke hotelnya, melakukan cek-in hotel, memesan makanan, dan lain-lain. Semuanya dipelajari lewat CD Audio dan Student Booklet yang menemaninya.
Lalu ada momen yang bikin hati saya hangat: dua murid saya, Pak Leland Jourdan dan Bu Susie Wertanen dari Amerika, menawarkan diri jadi voice talent untuk rekaman audionya. Saya ingat waktu itu saya mikir:
Ya ampun… ini bukan sekadar murid belajar bahasa. Ini hubungan manusia.
Karena di situ saya merasa, belajar bahasa itu bukan hanya tentang kata-kata. Tapi tentang rasa percaya dan rasa saling mendukung.
Ibu Susie and Pak Leland sebagai Voice Talents Get Talking Indonesian
Tim di Balik Layar yang Bikin Semuanya Jadi Mungkin
Di saat saya fokus pada isi, Satwika dan tim Kesaint Blanc mengurus hal-hal yang (jujur) saya belum paham dunia-nya: produksi, editing, sampai pemasaran. Dan saya bersyukur sekali—karena proses menerbitkan buku itu ternyata panjang, teknis, dan mudah bikin orang kewalahan… kalau jalan sendirian. Buat saya, ini salah satu pelajaran penting:
Kadang rezeki itu datang bukan dalam bentuk “jalan mulus”, tapi dalam bentuk orang-orang baik yang bikin kita merasa: “Tenang, kamu nggak sendirian.”
Lebih dari Buku: Ada Misi yang Ikut Hidup
Tapi kejutan paling indahnya datang setelahnya. Karena buku itu bukan cuma jadi alat bantu belajar. Buku itu ikut jadi bagian dari cara saya memberi dampak. Sebagian hasil penjualan saya salurkan untuk mendukung program Senyum Posyandu melalui Fully Belly Initiative. Jadi buku itu bukan hanya tentang bahasa. Tapi juga tentang: berbagi kembali ke komunitas lokal.
Bersama Para Kader Posyandu 2013
Awal dari Perjalanan yang Lebih Besar
Kalau saya flashback, buku pertama ini adalah titik belok besar. Dia membuka mata saya bahwa mengajar dan menulis bisa jalan bareng—untuk tujuan yang lebih luas. Dan sejak itu, saya mulai paham: Perjalanan ini mungkin tidak berhenti di kelas. Ada banyak bentuk lain untuk mendampingi orang-orang belajar—termasuk lewat buku.
Semoga tulisan ini bisa menemani satu momen kecilmu hari ini—mungkin sambil seruput kopi hitam, mungkin sambil tarik napas panjang...
Salam hangat,
Restiany ☕
🤓
📌
Disclaimer
Semua nama yang disebutkan dibagikan dengan penuh rasa terima kasih untuk menghormati peran masing-masing dalam perjalanan mengajar saya. Mohon maklum kualitas foto yang disertakan—diambil dengan kamera resolusi rendah pada masanya, tapi kenangannya “tajam” sekali di hati saya.
📖
Mau Baca Cerita Lengkapnya?
Cerita ini adalah bagian dari Cerita Guru BIPA.
Kalau mau bacanya runtut, bisa klik di bawah ini ya:
👇
Seri: Awal Mula Masuk Dunia Mengajar
👇
Seri: Perjalanan Penulisan Buku









