
Saya masih ingat hari itu...
Bukan karena materinya, jujur saja, itu bukan materi yang sulit. Yang saya ingat justru perasaan di dada: agak sesak, tangan dingin, dan satu pertanyaan kecil yang berisik di kepala. “Saya beneran bisa, nggak ya?” Padahal saya sudah menyiapkan segalanya. Catatan ada. Contoh kalimat ada. Rencana kelas juga ada. Tapi saat berdiri di depan murid, semua itu seperti menjauh sedikit. Yang tersisa justru saya—dengan gugup yang berusaha disembunyikan. Lucunya, murid saya hari itu tampak baik-baik saja. Dia datang tepat waktu. Duduk dengan tenang. Tersenyum. Tidak ada tuntutan berlebihan. Tidak ada tatapan menghakimi.
Justru saya sendiri yang menuntut terlalu banyak. Saya ingin kelas pertama langsung “berhasil”. Ingin terdengar meyakinkan. Ingin terlihat seperti guru yang tahu arah. Padahal, di dalam hati, saya masih meraba-raba. Hari pertama mengajar ternyata bukan soal seberapa lengkap materi yang kita kuasai. Tapi soal keberanian untuk hadir—meskipun belum sepenuhnya percaya diri.
Saya bicara sedikit terlalu cepat hari itu.
Saya mengulang penjelasan lebih dari yang perlu.
Beberapa kali saya berhenti, bukan karena lupa, tapi karena sedang menarik napas. Dan tidak apa-apa. Pelan-pelan saya sadar: murid tidak datang untuk melihat guru yang sempurna.
Mereka datang untuk belajar—dan entah kenapa, sering kali proses belajar itu juga terjadi di pihak guru. Hari itu kelas berjalan. Tidak luar biasa. Tidak juga buruk. Hanya… berjalan. Dan justru di situ saya belajar sesuatu yang penting:
menjadi guru tidak selalu dimulai dari rasa yakin.
Kadang dimulai dari gugup—lalu tetap melangkah. Kalau kamu juga masih ingat hari pertama mengajarmu, mungkin rasanya tidak jauh berbeda.
Cerita ini mungkin belum rapi.
Tapi perjalanan mengajarnya juga memang begitu.
Terima kasih sudah membaca cerita ini, mungkin sambil seruput kopi hitam pahit kesukaan...
Salam hangat,
Restiany🤓
☕️






